SMK NEGERI 9 JAKARTA
I. Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas Laporan Kegiatan Literasi di SMK NEGERI 9 JAKARTA beserta ringkasan Novel yang penyusun baca selama mengikuti Literasi setiap hari Rabu di SMK NEGERI 9 JAKARTA.
Dengan dibuatnya Laporan ini, diharapkan dapat menambah wawasan untuk pembaca maupun penyusun.
Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih dan apabila ada kritik serta saran penyusun akan menerimanya dengan terbuka.
II. Pengenalan
Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Dengan membaca, wawasan seseorang akan luas dengan ilmu-ilmu yang didapat.
III. Kegiatan
SMK NEGERI 9 JAKARTA merupakan salah satu sekolah favorit para pelajar disekitarnya karena perolehan prestasi yang selama ini didapat oleh sekolah tersebut, baik di akademik maupun non-akademik. Untuk melestarikan budaya membaca di Indonesia, SMK Negeri 9 Jakarta mengadakan kegiatan Literasi setiap hari rabu untuk meningkatkan minat baca para siswa.
Kegiatan Literasi ini berlangsung selama 15 menit setiap rabunya, setelah berakhir kami diwajibkan untuk menyanyikan lagu INDONESIA RAYA (3 stanza) bersama-sama yang merupakan rutinitas para siswa setiap kali akan memasuki jam pelajaran.
III. Ringkasan Novel yang dibaca oleh Penyusun
Novel yang saya baca berjudul "Asa Malaikat Mungilku" karya Astuti J. Syahban, yang merupakan kisah nyata gadis kecil penderita lupus.
Novel ini menceritakan kisah seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun bernama Asa. Asa adalah seorang gadis periang. Ia tinggal bersama ayahnya yang berprofesi sebagai seorang jurnalis dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang bijaksana juga dua orang saudara yang menyayanginya. Rasanya tak ada yang kurang dari hidup seorang Asa. Tak ada masalah yang berat yang dihadapinya.
Sayangnya, keceriaan itu harus terusik saat suatu hal terjadi pada kehidupan Asa. Asa harus berjuang melawan penyakit “serigala” yang menggerogotinya. “Serigala” itu adalah kelainan yang mendekam di tubuh Asa sendiri. Dunia medis membahasakannya dengan sebutanLupus. Nama formalnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit langka ini hingga kini masih menjadi “misi mustahil” untuk disembuhkan.
Hari-hari yang berat dijalani Asa. Keharusan untuk tinggal dirawat dirumah sakit berhari-hari pun ia jalani. Normalnya, anak seusianya sedang sibuk sekolah, belajar dan bermain. Namun demikian, Asa tetap menjalani hari-harinya dirumah sakit dengan ceria, bahkan ia banyak menemukan sahabat barunya di rumah sakit tersebut. Kebiasaan Asa mengaji dan bersholawat pun tetap ia jalani, itu menunjukkan betapa besarnya cinta Asa kepada Allah. Ibu Asa dengan sabar menemani anaknya selama masa perawatan, dan ayah Asa, dengan penuh usaha mencari biaya utntuk oengobatan Asa yang jumlahnya tidak sedikit.
Perjuangan Asa untuk bertahan hidup dan bisa menggapai cita-citanya, rupanya tak tercapai. Tuhan berkehendak lain, ia harus pulang kembali ke pangkuan Sang Khalik. Uniknya, banyak hal-hal menakjubkan terjadi ketika jenazah Asa disemayamkan, sampai dikebumikan di tempat peristirahatah terakhir. Bahkan, saat itu, jenazah Asa nampak tersenyum seperti seorang gadis kecil yang manis yang terlelap tidur. Semua hal ini tentu membuat banyak orang takjub. Kehadiran Asa, kini hanyalah sebuah kenangan manis bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang menyayanginya.
Novel yang berisikan kisah nyata ini mengangkat tema tentang perjuangan seseorang untuk hidup karena kecintaan kepada Tuhannya. Hal ini digambarkan penulis dari apa yang dilakukan sang tokoh utama dalam menjalani hari-harinya yang bisa dikatakan sangat sulit untuk dilalui gadis seusianya. Kebiasaan, tingkah laku, dan tutur kata sang tokoh menjadi alat sang penulis untuk menunjukkan ide pokok dari novel ini. Sedang alur yang penulis ciptakan di novel ini adalah alur campuran. Bagian awal novel ini berisi tentang akhiran yang bagus dari novel ini. Di sela-sela cerita, penulis juga mengungkapkan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.
Tokoh utama dalam novel ini, memiliki watak periang, baik hati, sabar dan sholehah. Hal ini bisa dibuktikan dengan perkataan dan perbuatannya. Ia tergolong juga bersifat dewasa, dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ibunya, juga memiliki sifat yang sama dengannya, mungkin penulis ingin menggambarkan bahwa sifat yang dimiliki tokoh utama, diturunkan dari ibunya. Tokoh-tokoh lain dalam novel ini, rata-rata memiliki sifat yang sama dengan kedua tokoh tadi. Benar-benar novel yang menggambarkan nilai sosial dan agama.
Penulis menempatkan dirinya sebagai tokoh utama pelaku sampingan. Dapat dilihat dari pembahasaannya menyebut dirinya sendiri dengan sebutan “aku”. Setting dalam novel ini sepertinya sangat lengkap. Dari suasana gembira ria, ketakutan akan kematian, keharuan, sampai kesedihan yang mendalam karena perginya sang tokoh utama untuk selama-lamanya. Berbagai tempat ditulis secara jelas didalamnya. Tempat-tempat yang pernah didatangi atau dihuni sang tokoh, lengkap dengan keadaan-keadaan, bahkan sesepele apapun, tetap ditulis dengan jelas. Gaya bahasa yang dipakai, adalah bahasa sehari-hari, diselingi dengan bahasa-bahasa daerah sang tokoh.
Novel ini seperti sebuah khotbah, yang mengajak kita untuk menjalani hidup ini dengan semangat dan perjuangan, serta berserah sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Lebih banyak hal-hal positif yang dapat kita petik dari peristiwa yang terjadi didalam cerita.
IV. Penutup
Demikianlah Laporan mengenai Kegiatan Literasi di SMK NEGERI 9 JAKARTA dan rangkuman resensi yang penyusun baca. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan untuk pembaca maupun penyusun...
Ayo kita tingkatkan minat baca rakyat Indonesia!

